Generasi Galau

These past year I noticed something. Ada sejumlah besar orang yang “galau”.

galau/ga┬Ělau/ a, bergalau/ber┬Ěga┬Ělau/ a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); (KBBI)

At first I thought, maybe it’s because I am at an age to get married. Sehingga orang-orang yang belum punya pasangan/ akan menikah terlihat galau. Namun setelah memerhatikan kisaran umur yang lain, ternyata kegalauan hidup merupakan hal yang diwajarkan sehari-hari. Candaan-candaan kecil sering terlontar di meja makan PKL, lagu-lagu dangdut di ┬áMetro Mini menceritakan kisah-kisah kegalauan, sampai berita nasional┬ámenyisipkan kata “galau”.

Ditambah lagi saat kegiatan Persiapan Keberangkatan, PIC sering berbicara yang mengarah ke topik jodoh dan kegalauan. Padahal semua peserta merupakan calon master dan doktor yang mampu berfikir ke depan membangun bangsa sehingga topik “galau” bukan lagi hal yang lazim.

Wait, I am forgetting why I am writing this. -_-”

Maybe I just want to get rid of my drafts, or maybe I am galau melihat dunia sekitar galau. :p

Akte Lahir untuk ke Belanda

Kalau baca di link resmi Kedutaan Belanda tentang sertifikat, sudah menjadi bahan pikiran sendiri ternyata tentang akte lahir ini. Dari mulai harus minta tolong orang tua di kampung halaman untuk translate dan minta legalisir ke Catatan Sipil sampai yang akhirnya tidak dapat karena berbahasa inggris (terhitung tidak asli, *wtf).

Kalau baca di blog-blog orang dan tanya kanan kiri yang sudah dan akan ke Belanda, banyak┬áhampir semua mengatakan bahwa dibutuhkan juga legalisir oleh Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukam dan HAM, dan untuk buku nikah juga butuh ke Kementerian Agama. Baca dan tanya orang saja sudah capek, kebayang bagaimana melakukannya sendiri. Ada ‘rujukan’ juga untuk menggunakan agen yang akan mengurus semua, sayang mahal, kisaran 1jt++/dokumen. Padahal dokumen kami ada 5 buah total (akte kelahiran 2, KK 2, buku nikah 1).

Setelah berusaha mencari informasi lagi, ada beberapa teman yang mengatakan tidak dibutuhkan legalisir ke kementerian-kementerian, bahkan sampai Belanda dokumen itu tidak ditanyakan. Namun mereka tetap menganjurkan untuk legalisir, jaga-jaga. Yes, I understand, safety first. My engineers attitude tells me different. How can I be safe, efficient and lazy at the same time? Just ask!

I emailed my campus and later that day I got an immediate answer:

Dear Aden Firdaus,

A stamp from the translator or government will be fine. Do not go through too much trouble or costs for the certificate, as long as it is an official document and it is in either Dutch or English.

Kind regards,

YES! Problem(s) solved! 4 baris dalam to-do-list langsung tercoret. ­čÖé

Inspiration for Future Parenting

There is a great debate in my mailing list about an article written by a lecturer as a scholarship interviewer. Arguments are thrown in to the hot conference.

One quote catches my eyes and I search for the source.

“Don’t ask kids what they want to be when they grow up but what problems do they want to solve. This change the conversation from who do I want to work for, to what do I need to learn to be able to do that.”

-Jaime Casap-

cuwx6mavaaqyh9q

This is super awesome.

What’s Wrong With the World? 4W Question.

Have you seen the news these days? Some questions raised up in my office. What’s wrong with the world? Well, my answer would be:

We share to little.

We care on the small things that doesn’t matter.

We don’t smile.

We ask for raise for the work we don’t do.

We regret the things we didn’t do.

We seek for money on every topic.

We don’t listen.

We distrust the people we never met.

We make excuses.

We get carried away with the negative flow of our surroundings and make it worse.

We talk to much bullshit.

We turn our eyes to the shows and dramas to take off the pain.

We never travel.

We argue about the stuff we don’t have a clue.

We don’t smile for the little sugar anymore.

We don’t want to dream.

We can’t differentiate between a joke and an insult.

We chose to do wrong because it’s easy and common.

We expect for others to make a change in our own live.

We don’t want┬áhope for the good.

We seek for information of famous people to envy about.

We don’t make sense.

We hate the right people based on what wrong media gives us.

Yet, we sit around doing nothing.

But those are just in my head, because if I said it out loud, I would be a hypocrite.

Menentukan Universitas Tujuan

Sudah ada lebih dari 3 orang yang menanyakan “Bagaimana caranya memilih kampus/ universitas?”. Pada awalnya saya dan istri juga bingung memulai darimana, tapi seiring berjalannya waktu, dapat saya rangkum sebagai berikut:

  1. Tetapkan tujuan kuliah. Alasan “ikut-ikutan” tidak bisa diterima, baik oleh pemberi beasiswa, universitas, maupun hati nurani. Buatlah “I want to study because I am dumb.”, well, that’s my reason. Ada rekan-rekan yang ingin membangun negeri, sehingga membutuhkan keahlian khusus di bidangnya. Pekerjaan pembangunan daerah yang menuntut untuk pintar, dsb.
  2. Tentukan jurusan. Ini mudah, karena jika bukan karena background kuliah sarjana, maka karena tuntutan pekerjaan. Nothing else.
  3. Lihat tabel universitas yang disupport pemberi beasiswa, dalam kasus saya LPDP. Silakan klik link berikut* dan print tabelnya. Daftar perguruan tinggi dari LPDP merupakan 200 perguruan tinggi paling top di dunia.
  4. Coret negara-negara yang terlihat kurang mendukung dalam kehidupan studi. Seperti misalnya Jepang dan Jerman yang untuk kasus kami sulit untuk belajar bahasanya. Step ini bisa mengurangi minimal 30% dari daftar yang ada.
  5. Mulai browsing tiap2 website kampus yang ada. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
    • Jurusan yang disediakan
    • Jadwal intake (adakah tiap semester atau hanya 1 tahun 1x)
    • Lama waktu perkuliahan
  6. Tulis ketiga poin tersebut pada tabel sehingga memudahkan untuk melihat keseluruhan.
  7. Coret semua kampus yang tidak menyediakan jurusan yang dituju. Step ini bisa mengurangi minimal 50% dari daftar yang tersisa.
  8. Coret semua universitas yang tidak cocok dengan rencana kita mulai kuliah. (50% lagi)
  9. Coret yang tidak sesuai dengan lama waktu perkuliahan. Seharusnya setelah langkah ini akan hanya tersisa kurang dari 10 kandidat kampus.
  10. Buka browser lagi, browsing lebih dalam. Cari tentang fasilitas-fasilitas yang menunjang pendidikan, seperti laboratorium, field trip, koneksi, rangking kampus, jurnal internasional yang diterbitkan. Mapping ini sangat berguna untuk mempertimbang SWOT tiap-tiap kampus.
  11. Cari tahu tentang persyaratan-persyaratan tiap kampus. Seperti score IELTS, IPK, background jurusan, mata kuliah yang sudah pernah diambil, GRE (Amerika), pengalaman kerja 2 tahun (Jerman), surat rekomendasi dari profesor tertentu, aktif berorganisasi (MIT), dll.
  12. Di step ini atau sebelumnya sudah bisa mulai untuk sebar aplikasi pendaftaran ke kampus dan mendaftar untuk beasiswa.
  13. Stalking orang-orang yang sedang/ sudah kuliah di kampus-kampus tersebut. Message via facebook/ whatsapp. Tanyakan kehidupan di sana seperti apa.
  14. Tanyakan pendapat teman dan saudara, orang tua, dan terutama pendamping hidup jika sudah mengerucut pada 2-3 pilihan.
  15. Berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkan yang terbaik. ­čÖé

This is our case, mungkin untuk tiap individu bisa berbeda-beda. Beasiswa yang saya gunakan juga LPDP, mungkin jika target beasiswa lain seperti DAAD, AusAid, atau StuNed akan mempunyai pilihan yang lebih mudah.

Jangan lupa selalu perhatikan semua deadline yang ada di tiap kampus. Tulis semua angka yang terlihat di website universitas. ;p

*tabel update 2015 bulan Maret. Silakan cari yang lebih update jika ada.